Dukungan nutrisi pasca perawatan kritis

Dr Lim Yen Peng
Individu yang selamat dari perawatan kritis dapat mengalami sindrom pasca perawatan intensif (Post-Intensive Care Syndrome – PICS), yang dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mereka. Nutrisi optimal sangat penting selama fase pemulihan subakut dan jangka panjang. Pertimbangan gizi dan prioritas pada pasien ini dipengaruhi oleh diagnosis klinis, komorbiditas, komplikasi, dan pengembangan disfagia, penurunan berat badan, kelemahan atau sarkopenia setelah sakit kritis. Terapi nutrisi sangat penting selama rehabilitasi pasien untuk pemulihan nutrisi, hilanganya massa dan fungsi otot untuk meningkatkan kualitas hidup. Pasien harus menerima dukungan nutrisi yang tepat untuk mencapai konsumsi energi dan protein yang memadai, ketika mereka melewati berbagai mode makan dan mengalami tantangan fisiologis dan fungsional untuk asupan makanan. Lim Yen Peng, ahli gizi berpengalaman dari Singapura, berbicara kepada FrieslandCampina Institute tentang topik ini.

Lim Yen Peng adalah kepala dan ahli gizi utama senior dari Departemen Gizi dan Ilmu Gizi di Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH), Singapura yang menjadi bagian dari Pusat Nasional Penyakit Menular (National Centre for Infectious Diseases – NCID). Dia menjadi pemimpin dalam pengembangan layanan gizi, yang mencakup seluruh rangkaian perawatan. Sebagai ketua subkomite Gizi rumah sakit, dia memimpin tim antarprofesional untuk melakukan perubahan sistem guna meningkatkan pemberian perawatan gizi dalam pendekatan kolaboratif. Lim juga menjabat sebagai anggota dosen Program Peningkatan Proses Klinis rumah sakit. Secara nasional, dia menjabat sebagai ketua bersama di panel Ahli Gizi di Kementerian Kesehatan untuk menggerakkan isu-isu profesional seperti kerangka kerja standar kompetensi dan terlibat dalam Kelompok Kerja Panti Wredha Kementrian Kesehatan guna merekomendasikan model baru perawatan gizi untuk meningkatkan dampak kesehatan penduduk.

Apa peran ahli gizi dalam perawatan dan pemulihan pascakritis?

Ahli gizi melakukan peran sangat penting dalam tim multidisiplin dalam manajemen pasien selama fase pemulihan. Ahli gizi memberikan penilaian gizi secara individual, memprioritaskan masalah gizi, merencanakan dan melaksanakan intervensi gizi untuk mengoptimalkan status gizi dan hidrasi, sambil terus memantau kebutuhan dan kemajuan gizi, serta memastikan kesinambungan perawatan gizi dalam pendekatan interdisipliner.

Selain mendukung perawatan pasien secara individu, ahli gizi juga harus menjadi pemimpin dalam berkolaborasi dengan beragam pemangku kepentingan. Ahli gizi harus merasa diberdayakan untuk memperjuangkan perubahan dalam lembaga dan sistem perawatan, untuk mengubah budaya dan mendorong perubahan yang bermanfaat dalam perawatan gizi. Komunikasi tetap menjadi inti untuk membangun hubungan dan keterlibatan yang kuat.

Bisakah Anda menjelaskan secara singkat rekomendasi gizi untuk pemulihan pasca-perawatan kritis?

Pasca Unit Perawatan Intensif (ICU) dan fase pemulihan sama pentingnya dengan nutrisi yang diterima selama ICU. Meskipun tidak ada rekomendasi klinis formal tentang kebutuhan energi dan protein untuk perawatan dan pemulihan pasca kritis, adalah penting bagi pasien untuk menerima energi dan protein yang memadai guna meningkatkan pemulihan massa otot fungsional dan mencegah malnutrisi.

Pendekatan praktis oleh Zanten dkk., 2019 menyarankan perlunya meningkatkan kebutuhan energi dan protein selama pemulihan perawatan pasca kritis dan pasca pemulangan dari rumah sakit.1

Pasca Pemulihan Perawatan kritis Pasca Pemulangan dari rumah sakit
Kebutuhan energi 125% dari REE 150% dari REE
Kebutuhan protein 1,5-2,0g / kg berat badan / hari 2,0-2,5g/kg berat badan / hari

 

Terkait dengan protein, faktor apa lagi yang harus dipertimbangkan selain kuantitas?

Selain kuantitas, adalah penting untuk melihat pola dan kualitas asupan protein. Karena ambang anabolik protein makanan per makan lebih tinggi pada lansia, mereka dianjurkan untuk makan 25-30g protein berkualitas tinggi yang terdiri dari 10g asam amino esensial dalam setiap kali makan untuk merangsang sintesis protein otot rangka secara maksimal guna mempertahankan massa otot. Protein berkualitas tinggi dalam jumlah sedang ini menunjukkan efek yang sama pada orang dewasa muda juga.2 Asupan protein yang terdistribusi secara merata dan memadai juga akan lebih merangsang respons anabolik dibandingkan dengan distribusi protein yang tidak merata dan tidak memadai.3

Bagaimana suplemen nutrisi oral (ONS) memengaruhi hasil klinis?Dukungan nutrisi pasca perawatan kritis

Penggunaan suplemen nutrisi oral yang diberikan sebagai bagian dari intervensi nutrisi individu dari ahli gizi pada pasien dengan risiko gizi tidak hanya membantu meningkatkan energi dan asupan protein tetapi juga menghasilkan peningkatan dan dampak kesehatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam uji coba EFFORT, di mana terdapat penurunan yang signifikan dalam dampak klinis yang merugikan yang meliputi tingkat kematian, tingkat masuk ICU, tingkat masuk rumah sakit kembali nonelektif, komplikasi besar dan penurunan status fungsional.4

Apakah ada perbedaan dalam dukungan nutrisi pasca perawatan kritis bagi pasien yang dalam perawatan kritis karena COVID vs penyakit lainnya?

Tujuan akhir dari terapi nutrisi untuk setiap pasien perawatan pasca kritis adalah untuk mengoptimalkan dukungan nutrisi dan harus disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis, fisik dan psikologis pasien. Ahli gizi juga harus mempertimbangkan adanya malnutrisi, sarkopenia, disfagia, dan tujuan rehabilitasi individu, yang dapat memengaruhi kebutuhan dan asupan nutrisi pasien. Intervensi nutrisi juga harus dipantau untuk kesinambungan perawatan.

Referensi

  1. van Zanten ARH, De Waele E & Wischmeyer PE. Nutrition therapy and critical illness: practical guidance for the ICU, post-ICU, and long-term convalescence phases. Crit Care 2019;23:368. https://doi.org/10.1186/s13054-019-2657-5
  2. Bauer J, Biolo G, Cederholm T, et al. Evidence-based recommendations for optimal dietary protein intake in older people: a position paper from the PROT-AGE Study Group. J Am Med Dir Assoc 2013; 14:542-59
  3. Paddon-Jones D, Rasmussen BB. Dietary protein recommendations and the prevention of sarcopenia.Curr Opin Clin Nutr Metab Care 2009;12(1):86-90
  4. Individualised nutritional support in medical inpatients at nutritional risk: a randomised clinical trial. Lancet 2019;393(10188):2312-21