Hasil laporan terbaru tentang gizi oleh badan PBB

Belum lama ini, empat badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerbitkan laporan tahunan kedua mengenai kemajuan di Asia dan Pasifik menuju Pembangunan Berkelanjutan Tanpa Kelaparan guna menghapus kelaparan dan kekurangan gizi pada 2030.

Keempat badan tersebut adalah Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Program Pangan Dunia (WFP), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).

Laporan tersebut mencatat adanya kemajuan yang signifikan mengenai hal tersebut menuju penghapusan kelaparan dan kekurangan gizi, namun demikian kemajuan tersebut mulai melambat. Seiring dengan waktu yang mendekati tahun 2030 dan sekitar setengah miliar orang masih kekurangan gizi, berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan yang persisten dan rintangan yang muncul harus ditingkatkan.

Hasil statistik yang tidak menggembirakan

Terdapat kemajuan antara tahun 2000 dan 2018; prevalensi gagal tumbuh atau stunting telah menurun. Misalnya, di Asia Tenggara, sebesar 31 persen. Meski terdapat perbaikan, stunting dan wasting (penurunan berat badan yang drastis) masih banyak terjadi di kawasan Asia Pasifik. Pada tahun 2018, sekitar 77,2 juta balita menderita stunting dan 32,5 juta balita menderita wasting. Khususnya di Asia Tenggara, 8,7% balita menderita wasting.

Perjuangan mengatasi kekurangan gizi pada anak semakin rumit dengan semakin banyaknya bentuk kekurangan gizi lainnya. Kegemukan, obesitas dan kekurangan mikronutrien terjadi di rumah tangga individu dan dalam beberapa kasus, pada orang yang sama. Peningkatan tertinggi jumlah kasus kegemukan pada balita antara tahun 2000 dan 2018 adalah di Asia Tenggara dan Pasifik. Diperkirakan 8 persen balita di Indonesia mengalami kegemukan.

Peningkatan investasi dalam pengumpulan data berkualitas tinggi diperlukan untuk mengukur kemajuan menuju keamanan pangan dan gizi yang lebih baik. Beberapa negara telah melakukannya, sebagian untuk memantau kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Tetapi, banyak negara masih belum memiliki data status gizi nasional yang berkualitas baik, dan hal ini menjadi kendala dalam pembuatan kebijakan yang matang untuk mengatasi kekurangan gizi pada anak-anak.

Di kawasan Asia Pasifik, jumlah kasus obesitas pada orang dewasa meningkat. Kebijakan yang bertujuan untuk melakukan pencegahan adalah cara paling efektif untuk mengatasi masalah ini, hal ini termasuk memastikan diet yang sehat bagi anak. Penyakit yang terkait dengan obesitas, termasuk diabetes dan penyakit tidak menular (NCD) yang terkait dengan diet, telah meningkat di banyak negara di kawasan tersebut, terutama di Kepulauan Pasifik. Hal ini membebani anggaran kesehatan nasional dan menyebabkan hilangnya produktivitas.

Keberhasilan intervensi perlu semakin ditingkatkan

Berbagai negara mulai mengenakan pajak pada minuman manis dengan gula untuk memerangi obesitas dan peningkatan penyakit tidak menular (NCD) yang terkait dengan diet. Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa pajak tersebut dapat menjadi intervensi publik yang efektif.

Beberapa negara memfortifikasi makanan dan bumbu antara lain dengan zat yodium, besi, asam folat dan vitamin A, D, dan B. Salah satu bahan makanan tersebut adalah beras, dan beberapa negara juga sedang merumuskan pedoman dan peraturan nasional untuk fortifikasi makanan lainnya seperti susu, minyak, dan tepung gandum. Upaya-upaya ini harus ditingkatkan untuk mengatasi permasalahan kekurangan mikronutrien.

Terdapat peluang di kawasan Asia Pasifik untuk mengintensifkan pemanfaatan perlindungan sosial guna memperbaiki gizi. Desain, implementasi, pemantauan dan evaluasi sistem perlindungan sosial harus memasukkan tujuan dan prinsip keamanan pangan dan gizi. Contoh program perlindungan sosial yang berkontribusi pada perbaikan gizi adalah Program Keluarga Harapan–PKH Indonesia. Program ini adalah program bantuan tunai yang berdampak positif pada keberagaman diet rumah tangga, khususnya dengan hasil yang menjanjikan bagi anak-anak. Peserta dari rumah tangga miskin melaporkan peningkatan konsumsi makanan yang lebih bergizi oleh anak-anak mereka.

Perlindungan sosial juga dapat lebih peka terhadap gizi dengan menjadi lebih responsif terhadap kejutan, sehingga kejutan tidak menyebabkan mekanisme pemulihan yang merugikan dan hasil gizi buruk. Misalnya, dengan merancang sistem perlindungan sosial yang fleksibel yang dapat merespon kejutan dan membangun ketahanan di kalangan miskin dan rentan.

Baca laporan lengkapnya di sini: FAO, UNICEF, WFP dan WHO. 2019. Menempatkan gizi di Pusat Perlindungan Sosial. Gambaran Umum Keamanan Pangan dan Gizi di Kawasan Asia dan Pasifik Tahun 2019. Bangkok, FAO

Baca artikel lainnya: