Tinjauan terbaru tentang dampak stunting dan selebihan berat badan terhadap perkembangan kognitif dalam anak usia 0-59 bulan

Gagasan penting dari ulasan tersebut
Pendidikan orang tua, pengetahuan gizi umum dan peningkatan kualitas diet dengan makanan yang diperkaya dengan kalsium, zat besi, seng, vitamin B2 dan protein berkualitas tinggi, termasuk susu, semuanya terkait dengan peningkatan hasil kognitif pada anak-anak yang kekurangan gizi.

Tinjauan oleh Suryawan dkk 2021 membahas dampak berat badan kurang dan stunting yang ringan/sedang maupun kelebihan berat badan/obesitas terhadap perkembangan neurokognitif dalam anak usia 0 – 59 bulan. Sebanyak 26 artikel teks lengkap diliput dalam tinjauan ini. Dalam makalah tinjauan lain kekurangan berat badan, stunting dan kelebihan berat badan-obesitas dibahas secara tersendiri tetapi dalam tinjauan ini kedua hal itu dibahas bersama karena stunting dan obesitas dapat terjadi bersama dalam populasi yang sama sebagaimana dilihat dalam banyak negara di dunia.

Temuan-temuan yang disajikan dalam makalah ini menunjukkan bahwa baik kekurangan berat badan, stunting, maupun kelebihan berat badan-obesitas berdampak negatif terhadap perkembangan neurokognitif. Ditengarai adanya kemungkinan bahwa periode di mana defisit neurokognitif dapat pulih setelah intervensi gizi yang sesuai melampaui 1000 hari pertama kehidupan, sampai usia 8 tahun, yang sesuai dengan perkembangan korteks prefrontal dan sinaptogenesis yang sedang berlangsung pada usia tersebut.

Poin-poin penting tinjauan

Bukti menunjukkan bahwa baik kekurangan berat badan maupun stunting berdampak negatif terhadap berbagai unsur fungsi kognitif (rentang perhatian, kemampuan matematika dan bahasa) dalam usia muda dan terhadap status sosioekonomi pada usia dewasa.

Para penulis menyatakan, intervensi gizi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan di antara anak-anak kurang gizi berpotensi untuk memulihkan perkembangan neurokognitif sampai usia 8 tahun, terutama di antara mereka yang status gizinya telah mengalami peningkatan. Selain itu, ditekankan juga akan pentingnya 1000 hari pertama kehidupan sebagai jendela kesempatan yang paling kritis untuk pemulihan defisit neurokognitif.

Lebih banyak penelitian diperlukan tentang dampak intervensi gizi/perilaku dalam anak-anak kelebihan berat badan/obesitas terhadap perkembangan saraf otak dan kognisi, terutama dalam negara-negara berpendapatan rendah, sebab literatur yang diambil saat ini semua berasal dari negara-negara berpendapatan tinggi. Tampaknya dampak kelebihan berat badan/obesitas terbatas pada masalah perhatian, keterampilan motorik kasar dan kontrol eksekutif.

Gambar 1 dari tinjauan Suryawan dkk 2021, menunjukkan dampak dari pertumbuhan kurang optimal dalam usia dini terhadap berbagai aspek perkembangan. Riset lebih lanjut diperlukan untuk memahami dengan lebih baik faktor-faktor yang terjadi bersamaan dalam kekurangan berat badan, stunting dan kelebihan berat badan/obesitas terhadap perkembangan neurokognitif.

Gambar 1 Dampak dari pertumbuhan kurang optimal dalam usia dini terhadap aspek-aspek terkait perkembangan.

Pentingnya Intervensi Gizi dalam Anak Kurang Gizi

Para penulis menyatakan bahwa pendidikan orang tua, pengetahuan gizi, durasi pemberian ASI dan peningkatan kualitas pola makan menggunakan makanan pelengkap yang diperkuat dengan kalsium, besi, seng, vitamin B2 dan protein berkualitas tinggi dapat mengubah dampak kekurangan gizi dan meningkatkan hasil kognitif dalam anak-anak kurang gizi. Akses terhadap makanan sehat yang terjangkau untuk anak kelebihan berat badan/obesitas, terutama untuk anak dari keluarga kurang mampu, adalah penting untuk perkembangan kognitif.

Kesimpulan tinjauan

Para penulis menyimpulkan bahwa kekurangan berat badan, stunting dan kelebihan berat badan/obestitas memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan neurokognitif. Pendidikan orang tua, pengetahuan gizi umum dan peningkatan kualitas pola makan dengan makanan yang diperkuat dengan kalsium, besi, seng, vitamin B2 dan protein berkualitas tinggi semua terkait dengan peningkatan hasil kognitif dalam anak-anak kurang gizi. Akses terhadap makanan sehat yang terjangkau juga penting untuk mereka yang kelebihan berat badan/obesitas.

Baca artikel lainya:

Referensi

Suryawan, A., Jalaludin, M., Poh, B., Sanusi, R., Tan, V., Geurts, J., & Muhardi, L. (2021). Malnutrition in early life and its neurodevelopmental and cognitive consequences: A scoping review. Nutrition Research Reviews, 1-14. doi:10.1017/S0954422421000159

Malnutrition in early life and its neurodevelopmental and cognitive consequences: a scoping review | Nutrition Research Reviews | Cambridge Core