Ulasan terbaru mengenai peluang dalam penanganan alergi protein susu sapi

Ringkasan ulasan oleh Zepeda-Ortega dkk, 2021

15 orang pakar di bidang imunologi dan alergi baru-baru ini menerbitkan ulasan tentang penanganan alergi protein susu sapi (CMPA), dan membahas peluang untuk penelitian dimasa mendatang.

Pencegahan utama CMPA

Para penulis menuliskan bahwa pencegahan utama CMPA harus dimulai bahkan sebelum kehamilan, dengan berfokus pada gaya hidup sehat dan makanan bervariasi. Hal ini relevan terutama bagi para ibu dengan riwayat penyakit alergi dan berencana melahirkan melalui bedah Caesar. Selama kehamilan transfer kompleks alergen IgG membuat janin terpapar alergen makanan sejak dini. Pasca kelahiran, para penulis menganjurkan paparan berkelanjutan terhadap susu sapi di antara para ibu yang menyusui yang mengonsumsi susu, karena transfer kompleks alergen IgG melalui ASI dapat membantu membangun toleransi terhadap protein susu.

Fokus pada toleransi oral dini

Sebagaimana ditulis dalam ulasan ini, paradigma baru tentang penanganan klinis CMPA harus berfokus pada menumbuhkan toleransi oral dini dan bukan hanya mengatasi gejala. Pada umumnya, formula terhidrolisa ekstensif (eHF) dianjurkan sebagai penanganan lini pertama bagi bayi yang tidak diberi ASI dengan CMPA ringan hingga sedang. Ulasan menyatakan bahwa prebiotik dan probiotik, serta asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (LCPUFA), terutama selama kehamilan, juga dapat dipertimbangkan untuk mendukung tumbuhnya toleransi oral dini. Menurut para penulis, eHF memiliki kelebihan dibandingkan formula asam amino (AAF) dalam hal menumbuhkan toleransi oral karena lebih hemat biaya dan memiliki kemampuan merangsang toleransi karena mengandung sedikit peptida yang berasal dari protein susu, sementara AAF tidak.

Cara lain untuk menumbuhkan toleransi adalah melalui pengenalan formula secara bertahap dengan berbagai derajat hidrolisis dalam tangga susu formula, tulis para penulis (Gambar 1). Namun, hal ini membutuhkan uji coba terkontrol lebih lanjut sebelum bisa dianjurkan untuk dilakukan secara rutin.

Ulasan ini menyarankan beberapa peluang untuk penelitian mendatang

Pertama-tama, suplementasi prebiotic dan probiotik bagi ibu dan bayi berisiko tinggi, dapat dilakukan sebagai strategi untuk pencegahan utama CMPA. Kedua, tangga susu formula menurun dengan berbagai derajat hidrolisat untuk tantangan makanan dan penumbuhan toleransi oral dini (Gambar 1). Hal ini memberikan gradasi yang lebih akurat dari pengenalan peptida yang berasal dari protein susu dalam pola makan dibandingkan yang digunakan saat ini dalam praktik klinis. Ketiga, bukti menunjukkan bahwa modifikasi lingkungan dapat berdampak positif lebih besar pada risiko alergi daripada yang diperkirakan sebelumnya, pendekatan berbagai aspek harus ditelusuri dalam uji coba pencegahan yang dilakukan selama prakonsepsi dan kehamilan (Gambar 2). Pendekatan ini harus melibatkan pola makan bervariasi yang optimal tanpa menghindari alergen makanan, tanpa merokok, dan jika memungkinkan, menghindari antibiotik dan melahirkan secara bedah caesar.

Gambar 1. Tangga susu menurun dan naik dapat mendukung penumbuhan toleransi dini

Gambar  2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komposisi ASI dan berpotensi mempengaruhi hasil kekebalan tubuh pada anak.

Baca artikel lainya:

Referensi

Zepeda-Ortega B, dkk. Strategi dan peluang mendatang untuk pencegahan, diagnosis dan penanganan alergi susu sapi.

Catatan penting

Pemberian air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan cara optimal untuk memberi makan kepada bayi. Setelah itu bayi harus menerima makanan pelengkap dengan terus menyusu hingga dua tahun atau lebih. Para ibu harus mendapat bimbingan tentang nutrisi ibu yang tepat untuk membantu menopang pasokan dan kualitas ASI yang memadai. Pengenalan pemberian susu botol secara tidak benar, sebagian atau seluruhnya, atau makanan dan minuman pelengkap lainnya dapat memberikan dampak negatif pada proses menyusui, yang mungkin tidak dapat dipulihkan lagi. Para ibu harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mempertimbangkan implikasi sosial dan finansial sebelum memutuskan untuk menggunakan pengganti ASI atau jika mereka mengalami kesulitan dalam menyusui. Petunjuk penggunaan, persiapan dan penyimpanan pengganti ASI atau makanan pelengkap lainnya harus diikuti dengan seksama karena penggunaan yang tidak tepat atau tidak diperlukan dapat menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.